Oleh : Yuliana Epit*)
HARI HIV/AIDS diperingati setiap tanggal 1 Desember, semua orang memperingati Hari AIDS Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaraan tentang bahaya HIV/AIDS, serta mendorong cara pencegahannya, dan mendukung cara pengobatannya. Peringatan Hari HIV/AIDS menjadi hal yang sangat penting bagi lembaga kesehatan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas untuk memperkuat komitmen untuk menyadari bahwa penyakit ini sangat merugikan diri sendiri dan juga orang lain, bahkan menjadi bencana dunia. Peringatan ini bukan hanya tentang mengenang mereka yang menjadi korban, melainkan juga mengajak semua pihak untuk bergerak bersama-sama mencegah penyebaran HIV/AIDS.
HIV(Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh dan AIDS (Acquired Immune Deficency Syndrome) adalah stadium akhir dari inveksi HIV ketika sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah yang menghancurkan sel CD4 (sel yang melawan infeksi, bagian penting dalam sistem kekebalan). Sel CD4 yang rendah kurang dari 200/mm3 darah dengan standar normal 500-1500. Penyandang CD4 rendah akan rentan terinfeksi penyakit apa pun dan tak tersembuhkan. Kasus HIV/AIDS pertama pada tahun 1959 berdasarkan sampel darah seorang laki-laki di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo Afrika dan secara medis pada 1981 adanya wabah peneumonia di Los Angeles, AS yang menyerang pasangan homoseksual yang didentifikasi sebagai virus HIV. Ada anggapan penyakit ini kutukan bagi kaum homoseksual sebagai perilaku menyimpang.
SEJARAH HIV/AIDS di Indonesia pertama kali mencatat kasus HIV/AIDS pada tahun 1987, ditemukan pada seorang wisatawan asal Belanda di Bali. Sejak waktu itu, infeksi HIV/AIDS berkembang dan ditularkan melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Stigma negatif bagi penderita terlihat pada pandangan orang jika seseorang dinyatakan terkena HIV/AIDS, orang-orang akan memutuskan sosial, tidak berani berteman dengan penderita. Hal ini bisa menimbulkan hilang semangat untuk menjalani hidupnya dan berjuang untuk sembuh. Penderita HIV/AIDS merasa dirinya tersinggirkan dan terbuang, karena orang-orang di sekitarnya menjauhi bahkan tidak mau berteman. Stigma negatif sebagai pelaku seks menyimpang bagi penderita menyebabkan mereka menarik diri dan tak mau melanjutkan pengobatan, bahkan sebagian menyembunyikan penyakitnya karena takut dihakimi dan dikucilkan. Stigma ini harus dihapuskan karena orang yang penderita HIV/AIDS perlu kita hargai juga sebagai manusia yang tetap punya hak hidup.
MENGAPA HIV/ AIDS sangat penting dicegah dan dilawan? Karena penyakit ini tidak hanya menyerang fisik melainkan bisa menyerang psikis dan sosial penderitanya. Maka dari itu harus diberikan edukasi agar psikis penderita tidak terganggu, mengingat bahwa penyakit ini menjadi momok yang sangat menakutkan dengan mitos yang menyesatkan di kalangan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan kepedulian berbagai pihak.
BAGAIMANA bentuk peringatan hari AIDS ini dilakukan atau diselenggarakan? Banyak hal yang bisa dilakukan seperti seminar kesehatan, pembagian brosur informasi mengenai pencegahan ADIS, dan penyuluhan perilaku hidup sehat. Selain kegiatan tersebut bisa juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa HIV/AIDS bisa dicegah dengan tidak melakukan seks dengan orang yang diagnosis HIV/AIDS dan tidak satu tempat makan dengan penderita karena penularannya melalui cairan penderita yang tercampur dalam makanan dan minuman.
DELLA ( 21 tahun) seorang mahasiswa mengatakan bahwa HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan yang serius karena rendahnya kesadaran masyarakat dan masih adanya stigma terhadap penderita. Edukasi pencegahan dan penularan belum merata, sehingga banyak orang takut untuk memeriksakan diri. Oleh karena itu, penanganan HIV/ AIDS di Indonesia harus mengutamakan edukasi dan layanan kesehatan yang mudah diakses semua orang, tanpa penghakiman dan pengucilan.
PERINGATAN Hari Aids ini tidak hanya sebagai rutinitas melainkan menjadi salah satu momentum untuk mengajak seluruh masyarakat bergerak bersama-sama dalam mengayomi para penderita untuk tidak melakukan hal yang merusak kesehatan diri. Para penyintas masih layak hidup dan didukung untuk tetap sehat.
MARI kita bersama-sama memberikan semangat kepada para penderita HIV/AIDS agar mereka mampu bangkit dan menjalani hidup dengan penuh harapan. Hindarilah sikap menghakimi, karena stigma sering kali jauh lebih menyakitkan dibandingkan penyakit yang mereka derita. Dengan sikap saling peduli dan saling memahami, kita belajar untuk menjadi manusia yang mempunyai hati nurani, sekaligus kita membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi orang di sekitar kita.
*)Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun

