CERITA KETEGUHAN GURU DI UJUNG KALIMANTAN
Elia Lisna*)
SETIAP
kali Hari Guru kembali hadir, masyarakat biasanya ramai dengan ucapan terima
kasih dan foto nostalgia masa sekolah. Namun setelah itu, semuanya kembali
padam. Kita sering lupa bahwa profesi yang kita rayakan sehari dalam setahun
ini sesungguhnya memikul pertaruhan masa depan bangsa termasuk masa depan
anak-anak kita di desa-desa terpencil yang jarang masuk berita.
DI
Desa Ongkol Padang, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, saya
melihat bagaimana kata “pengabdian” memiliki makna yang lebih nyata daripada
sekadar slogan. Guru-guru di daerah ini mengajar dalam kondisi yang jauh dari
ideal: jarak yang tidak dekat, tidak ada listrik, akses yang terkadang sulit,
dan fasilitas yang tidak memadai. Tetapi setiap pagi mereka tetap hadir, seolah
tidak ada yang mampu mematahkan semangat itu. Mungkin inilah bentuk keteguhan
paling jujur yang dimiliki profesi guru.
PERUBAHAN kurikulum, tuntutan digitalisasi, dan segala wacana modernisasi sering digulirkan dari kota-kota besar. Namun guru di desa harus menerjemahkan perubahan itu dalam kenyataan yang berbeda. Ketika sebagian sekolah di kota membicarakan proyektor interaktif, di Ongkol Padang guru masih akrab dengan papan tulis yang catnya mulai memudar atau meja kayu yang sudah lama berfungsi lebih dari seharusnya. Tetapi justru di ruang-ruang kelas seperti itulah harapan masa depan tumbuh. Saya teringat cerita seorang guru yang mengajar di Ongkol Padang mengatakan bahwa kadang ia harus berjalan lebih jauh saat musim hujan karena jalan becek membuat sepeda motornya sulit lewat. Namun ketika ditanya mengapa tetap bertahan, ia menjawab sederhana: “Kalau saya berhenti, siapa yang mengajar mereka?” Kalimat itu terdengar ringan, tetapi di baliknya ada keteguhan yang sulit dibeli dengan apa pun.
GURU-guru
di Kabupaten Landak, khususnya di desa-desa seperti Ongkol Padang, tidak hanya
mengajar. Mereka juga menjadi jembatan antara anak-anak dan dunia yang lebih
luas. Mereka menjadi penguat ketika suasana rumah tidak selalu mendukung,
menjadi pendamping bagi murid yang takut bermimpi terlalu tinggi, dan menjadi
orang pertama yang percaya bahwa anak desa pun punya hak yang sama untuk
berhasil.
DALAM
arus modernisasi yang sering kali tidak merata, guru berada di tengah-tengahnya
dipaksa menyesuaikan diri dengan kecepatan perubahan zaman sambil tetap
mengakar pada realitas setempat. Ini bukan pekerjaan ringan. Apalagi ketika
sebagian besar orang masih memandang profesi guru sebagai pekerjaan “biasa”.
Padahal sesungguhnya, pendidikan tidak akan pernah melangkah maju tanpa peran
guru yang kuat dan dihargai.
HARI
Guru seharusnya mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tugas sekolah
atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa menyerahkan
seluruh beban itu kepada guru, terutama guru di daerah-daerah yang menghadapi
keterbatasan dalam berbagai aspek. Apresiasi tentu penting, tetapi yang lebih
penting adalah memastikan sila-sila pendidikan benar-benar didukung: fasilitas
layak, tenaga memadai, dan kebijakan yang berpihak pada pemerataan. Guru tidak
membutuhkan pujian berlebihan; mereka membutuhkan ruang untuk bekerja dengan
lebih baik. Pada akhirnya, setiap dari kita adalah jejak yang ditinggalkan oleh
seorang guru. Mungkin kita lupa nama-nama mereka, tetapi cara mereka membentuk
kita akan menetap dalam waktu lama.
DI
Ongkol Padang, dan desa-deas terpencil lainnya, guru tetap hadir sebagai
penyangga masa depan meski sering tanpa tepuk tangan. Ketika dunia bergerak
cepat, guru adalah jangkar yang menjaga agar arah pendidikan tidak hanyut.
Ketika semua hal menjadi serba instan, guru tetap mengajarkan kesabaran. Ketika
harapan mulai tipis, guru justru menyalakan dengan api semangat yang baru.
Guru-guru di daerah pedalaman sungguh menyalakan api harapan akan masa depan
lebih gemilang, bukan sekadar mengajar dan takut dilaporkan polisi bila
mendidik mereka agar menjadi semakin beradab dan bermartabat.
SELAMAT Hari Guru, semoga
suara guru dari kota sampai desa paling jauh tidak hanya didengar pada satu
hari perayaan, tetapi sepanjang tahun dalam bentuk dukungan nyata. Mereka layah
disematkan tanda jasa walaupun guru adalah pahlawan tanda jasa.
*)Mahasiswa
Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
kampus Kota Madiun

