RSUD Dungus Dukung Kesehatan Jiwa Dengan Berikan Penyuluhan
MADIUN (KORAN KRIDHARAKYAT.COM) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dungus kembali menggelar kegiatan edukatif sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa. Penyuluhan tersebut dilaksanakan di ruang tunggu Instalasi Rawat Jalan (Irja) RSUD Dungus pada Selasa, 10 Februari 2026. Kegiatan penyuluhan ini menghadirkan narasumber Perawat Terampil RSUD Dungus, Alvi Nugraha Difajar. Mengangkat tema “Stop Stigma, Dukung Kesehatan Jiwa”, kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada pasien dan keluarga pasien mengenai dampak negatif stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Alvi Nugraha Difajar menyampaikan bahwa satu dari empat orang di dunia pernah mengalami masalah kesehatan jiwa pada satu titik dalam hidupnya. Namun demikian, hambatan terbesar dalam proses kesembuhan bukan hanya pada penyakitnya, melainkan stigma yang melekat di masyarakat “Stigma adalah label negatif yang diberikan kepada seseorang karena kondisi kesehatan jiwanya. Dampaknya sangat besar, mulai dari rasa malu untuk berobat, keterlambatan penanganan medis, meningkatnya risiko self-harm dan bunuh diri, hingga isolasi sosial dan kehilangan kesempatan dalam pendidikan maupun pekerjaan,” jelas Alvi.
Maka dari itu, ia mengajak masyarakat untuk memahami perbedaan antara mitos dan fakta seputar gangguan jiwa, sehingga tidak lagi muncul kesalahpahaman yang berujung pada diskriminasi atau pengucilan. Sebagai institusi pelayanan kesehatan, RSUD Dungus terus berupaya menghadirkan layanan kesehatan jiwa yang komprehensif dan humanis.
RSUD Dungus berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien agar tidak melakukan pasung atau pengucilan, menyediakan lingkungan layanan yang aman dan tenang (safe space), serta mengintegrasikan layanan kesehatan fisik dan jiwa. “Kesehatan jiwa yang baik akan mendukung kesehatan fisik yang optimal. Karena itu, keduanya harus berjalan beriringan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Alvi juga membagikan langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat untuk mendukung kesehatan jiwa, antara lain menggunakan bahasa yang memanusiakan, menjadi pendengar tanpa menghakimi, menghentikan candaan yang merendahkan kondisi kesehatan jiwa, serta menormalisasi pengobatan ke psikolog atau psikiater sebagaimana berobat ke dokter lainnya. Sebagai penutup, disampaikan bahwa kesehatan jiwa bukan sekadar absennya gangguan mental, melainkan kemampuan individu untuk berdaya dan berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Demikian sebagaimana diinformasikan oleh RRI Madiun. (KR-FEB/AS)

