Berita Utama

[News][bleft]

Sari Berita

[Sekilas][twocolumns]

SUGENG ENJING ‘SELAMAT PAGI’


Oleh :  Dra. Agnes Adhani, M.Hum *)

ADA pertanyaan yang menggelitik apa bahasa Jawa “selamat Pagi”. Jawabnya adalah Sugeng enjang.  Ngoko-nya apa? Hal itu membuat berpikir agak panjang, ternyata tidak ada ucapan selangat versi ngoko dalam bahasa Jawa, mengapa?

DALAM bahasa Jawa dikenal tingkat tutur atau unggah-ungguh. Tingkat tutur bahasa Jawa atau dikenal dengan unda-usuk adalah variasi bahasa yang pemakaiannya berdasarkan relasi dan tingkat kelas atau status sosial penutur dan mitra tuturnya. Memilih bentuk  ngoko, krama, krama madya ditentukan oleh kedudukan penutur dan mitra tutur: penutur lebih tinggi, setara, atau lebih rendah.


Ki Padmasusastra memuat ihwal unggah-ungguhing basa yang memuat 13 konsep pembagian tingkat tutur bahasa Jawa, sebagai berikut: (1) basa ngoko: ngoko lugu, (2) ngoko andhap, (3) ngoko andhap antya-basa, (4) ngoko andhap basa-antya, (5) basa krama: (6) wreda krama, (7) muda krama, (8) kramantara, (9)  basa madya, (10) krama desa, (11) krama inggil, (12) krama kedhaton, (13) basa kasar.


WEDHAWATI, dkk. membagi tingkat tutur (undha-usuk/unggah-ungguhing basa) bahasa Jawa lebih bersifat normatif, yakni, basa ngoko, basa madya, dan basa krama. Pembagian tingkat tutur tersebut didasarkan atas fungsinya, yang mempertimbangkan psikologis penutur dan hubungan relasi dengan mitra tutur. Tingkat tutur yang dikemukakan oleh Wedhawati dan Dwiraharjo ini lebih realistis untuk pembelajaran bahasa Jawa saat ini, baik di rumah maupun di sekolah.


DALAM kenyataan, bentuk bahasa Jawa lebih banyak bentuk netral, maksudnya bentuk ngoko-madya-krama-nya sama, terutama kosakata budaya dan serapan dari bahasa lain, seperti buku, kertas, pulpen, gendera, meja, dan kursi. Bentuk ngoko lebih banyak dibanding bentuk krama. Biasanya bentuk ngoko dicarikan bentuk madya dan krama, seperti turu-tilem-sare ‘tidur’, mangan-nedha-dhahar ‘makan’, lunga-kesah-tindak ‘pergi’, mulih-wangsul-kondur ‘pulang’, tuku-tumbas-mundhut ‘membeli’.

DALAM ucapan selamat terdapat keunikan, hanya ditemukan bentuk krama saja, seperti sugeng enjang ‘selamat pagi’, sugeng siyang ‘selamat siang, sugeng sonten ‘selamat sore’, sugeng dalu ‘selamat malam’, sugeng makarya ‘selamat bekerja’, sugeng dhahar ‘selamat makan’, sugeng sare ‘selamat tidur’. Tidak ditemukan bentuk *selamet esuk, *selamet awan, *selamet sore, *selamet bengi, *selamet kerja, *selamet mangan, *selamet turu.


DALAM menggunakan bahasa Jawa, seorang penutur harus cermat dan lihai menempatkan diri dalam hubungannya dengan mitra tutur dan memilih variasi bahasa yang tepat. Ketepatan pemilihan variasi bahasa ditentukan oleh kedudukan atau posisi sosial. Sadar diri dalam menerapkan kedudukan atau posisi sosial ini tidak mudah, terutama dalam menggunakan bentuk honorifik yang digunakan untuk menghormati mitra tutur, justru  digunakan untuk diri sendiri. Honorifik merupakan bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan untuk menyatakan rasa hormat dalam aturan-aturan yang bersifat psikologis dan kultural atau suatu bentuk lingual yang dipakai untuk menyatakan penghormatan, yang dalam bahasa tertentu digunakan untuk menyapa orang lain. Dalam bahasa Jawa bentuk honorifik diwadahi dalam krama inggil.


DENGAN berlandaskan bentuk honorifik, penutur menempatkan mitra tutur sebagai pihak yang harus dihormati, sehingga ucapan selamat dalam konteks bahasa Jawa selalu menggunakan bentuk krama, tidak ada bentuk ngoko, kalaupun dipaksakan bentuk ngoko terasa janggal dan tidak berterima.

*) Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun

 

IKLAN

Recent-Post