DALAM bahasa Jawa dikenal tingkat tutur atau unggah-ungguh.
Tingkat tutur bahasa Jawa atau dikenal dengan unda-usuk adalah variasi bahasa yang pemakaiannya berdasarkan
relasi dan tingkat kelas atau status sosial penutur dan mitra tuturnya. Memilih
bentuk ngoko, krama, krama madya ditentukan oleh kedudukan
penutur dan mitra tutur: penutur lebih tinggi, setara, atau lebih rendah.
Ki Padmasusastra memuat ihwal unggah-ungguhing basa yang memuat 13 konsep pembagian tingkat tutur
bahasa Jawa, sebagai berikut: (1) basa
ngoko: ngoko lugu, (2) ngoko andhap, (3) ngoko andhap antya-basa, (4) ngoko andhap basa-antya, (5) basa krama:
(6) wreda krama, (7) muda krama, (8) kramantara, (9) basa madya,
(10) krama desa, (11) krama inggil, (12) krama kedhaton, (13) basa kasar.
WEDHAWATI, dkk. membagi tingkat tutur (undha-usuk/unggah-ungguhing basa) bahasa
Jawa lebih bersifat normatif, yakni, basa
ngoko, basa madya, dan basa krama. Pembagian
tingkat tutur tersebut didasarkan atas fungsinya, yang mempertimbangkan
psikologis penutur dan hubungan relasi dengan mitra tutur. Tingkat tutur yang
dikemukakan oleh Wedhawati dan Dwiraharjo ini lebih realistis untuk
pembelajaran bahasa Jawa saat ini, baik di rumah maupun di sekolah.
DALAM kenyataan, bentuk bahasa Jawa lebih banyak
bentuk netral, maksudnya bentuk ngoko-madya-krama-nya
sama, terutama kosakata budaya dan serapan dari bahasa lain, seperti buku, kertas, pulpen, gendera, meja, dan
kursi. Bentuk ngoko lebih banyak
dibanding bentuk krama. Biasanya bentuk ngoko dicarikan bentuk madya
dan krama, seperti turu-tilem-sare ‘tidur’, mangan-nedha-dhahar
‘makan’, lunga-kesah-tindak ‘pergi’, mulih-wangsul-kondur
‘pulang’, tuku-tumbas-mundhut ‘membeli’.
DALAM ucapan selamat terdapat keunikan, hanya
ditemukan bentuk krama saja, seperti sugeng enjang ‘selamat pagi’, sugeng
siyang ‘selamat siang, sugeng sonten ‘selamat sore’, sugeng dalu ‘selamat
malam’, sugeng makarya ‘selamat bekerja’, sugeng dhahar ‘selamat
makan’, sugeng sare ‘selamat tidur’. Tidak ditemukan bentuk *selamet
esuk, *selamet awan, *selamet sore, *selamet bengi, *selamet
kerja, *selamet mangan, *selamet turu.
DALAM menggunakan bahasa Jawa, seorang penutur harus
cermat dan lihai menempatkan diri dalam hubungannya dengan mitra tutur dan
memilih variasi bahasa yang tepat. Ketepatan pemilihan variasi bahasa
ditentukan oleh kedudukan atau posisi sosial. Sadar diri dalam menerapkan
kedudukan atau posisi sosial ini tidak mudah, terutama dalam menggunakan bentuk
honorifik yang digunakan untuk menghormati mitra tutur, justru digunakan untuk diri sendiri. Honorifik
merupakan bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan untuk menyatakan rasa hormat
dalam aturan-aturan yang bersifat psikologis dan kultural atau suatu bentuk
lingual yang dipakai untuk menyatakan penghormatan, yang dalam bahasa tertentu
digunakan untuk menyapa orang lain. Dalam bahasa Jawa bentuk honorifik diwadahi
dalam krama inggil.
DENGAN berlandaskan bentuk honorifik, penutur
menempatkan mitra tutur sebagai pihak yang harus dihormati, sehingga ucapan
selamat dalam konteks bahasa Jawa selalu menggunakan bentuk krama, tidak
ada bentuk ngoko, kalaupun dipaksakan bentuk ngoko terasa janggal
dan tidak berterima.
*) Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun

