Berita Utama

[News][bleft]

Sari Berita

[Sekilas][twocolumns]

SLOGAN POLITIK YANG MENGGELITIK



Oleh : Dra. Agnes Adhani, M.Hum
PSDKU Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


PEMBICARAAN POLITIK menjadi hangat bahkan panas menjelang pemilu. Namun ada beberapa hal tentang politik yang masih bisa kita ulik, salah satunya adalah slogan politik. Slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat  untuk memberitahukan atau mengiklankan sesuatu atau perkataan atau kalimat pendek yang menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideologi golongan, organisasi, partai politik dan sebagainya. Slogan adalah motto atau frasa yang dipakai pada konteks politik, profesional, agama, dan lainnya sebagai ekspresi sebuah ide atau tujuan yang mudah diingat. Slogan adalah suatu ekspresi, gagasan, atau tujuan yang diulang-ulang untuk memberitahukan, menjelaskan, atau mempopulerkan sesuatu dengan menggunakan kalimat pendek yang mencolok, menarik, dan mudah diingat, agar melekat dalam pikiran setiap orang.


PARTAI POLITIK sebagai bagian dari penentu kehidupan yang baik lewat tugas legislatif menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, kebebasan tentunya menjunjung tinggi moralitas, sehingga merumuskan slogan yang mencakup hal tersebut. Kehidupan yang baik sebagai visi partai politik dirumuskan dalam slogan politik. Slogan politik adalah adalah perkataan atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat  untuk memberitahukan atau mengiklankan sesuatu atau perkataan atau kalimat pendek yang menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideologi golongan, organisasi, partai politik. 


APAKAH slogan politik berhasil menangguk suara dengan tagline cukup menarik untuk ditelisik. Ada beberapa slogan politik yang unik, menyiratkan khalayak yang disasar, apakah khalayak sasaran merasa tersasar bisa kita lihat perolehan suara partai politik tersebut.


ADA  SLOGAN “Terbuka, Progresif, itu Kita” (Partai Solidaritas Indonesia, PSI),  ”S14P 2019” (Partai Demokrat),  ”#2019KitaBerkarya” (Partai Berkarya), ”Banteng Metal” (PDIP), ”Partai zaman wow” (PKPI), ”4G” (Golkar), ”From Zero to Hero”(Hanura). Slogan tersebut terlihat nyata menyasar kaum muda dan kaum milenial dengan menggunakan semangat muda ”progresif”, karena kaum tua biasanya menikmati masa tua dengan berkiblat pada masa lalu. Tulisan bahasa gaul dengan campuran angka dan huruf, penggunaan tagar #, akronim kemudaan ”metal, merah total”, dan penggunaan bahasa Inggris, ”four ji” (4G), dan From Zero to Hero” diharapkan mampu menarik kaum muda untuk meliriknya.


SELAIN ITU ditemukan juga slogan yang menunjukkan keberpihakan pada politik bersih tanpa money politik, seperti ”Politik tanpa mahar” (NasDem) dan ”Katakan tidak untuk Korupsi” (Demokrat). Namun masih juga ditemukan partai yang mengusung sentimen agama secara eksklusif yang tampil dalam slogan ”Bela rakyat, bela umat” (PAN),”Bela Islam bela bangsa. Bela Islam bela rakyat. Bela Islam bela NKRI” (PBB), dan  ”Mari Bung Rebut Kembali” (Partai Persatuan Pembangunan). Ajakah untuk entrepreneur yang kekinian juga diusung oleh salah satu partai, ”GeridraPreneur. Entreprenur untuk IndonesiaRaya” (Gerindra). Ada yang yang menarik, partai ini menunjukkan primordialisme yang kuat dengan menggunakan bahasa Jawa dan mengajak bernostalgia pada masa lalu. ”Piye kepenak zamanku to” (Partai Berkarya).


APAKAH PARTAI tersebut berhasil menangguk angka pemilih yang tinggi dengan slogan yang khas? Slogan yang seharusnya dihidupi dan diejawantahkan  dengan tingkah laku dan perbuatan yang selaras dengan makna slogan tersebut, ternyata banyak yang tidak selaras. Hal itu menyebabkan para pemilih malas memilih mereka, karena ketidakjujuran, ketidakselarasan antara slogan dan kenyataan. Ternyata slogan politik tidak berbanding lurus dengan perolehan suara di pemilu. Politik memang sesuatu yang unpredictable.  (*)

IKLAN