Oleh : Dra. Agnes Adhani, M.Hum
SETIAP tahun, pada tanggal 25 November
bangsa ini merayakan Hari Guru Nasional. Tahun ini peringatan ke-80, sama
usianya dengan usia negara kita Indonesia. Disparitas dan kesenjangan pembangunan
dan kesejahteraan di Indonesia sanganlah lebar, termasuk guru. Di Jawa Timur
saja ada guru yang harus menempuh
perjalanan berkaryanya setiap hari dengan ojek 120 rb, sehingga ke sekolah bolong-bolong,
mengakibatkan teguran dan tunjangan kinerja berkurang draktis, apalagi di
pedalaman beberapa provinsi di luar Jawa. Perjuangan yang sungguh tidak mudah.
NAMUN kita tidak bisa menutup mata atas
perilaku guru yang elitis dan arogan. Hal ini mengingatkan penulis kepada tokoh
Durna, atau Drona, guru para Pandawa dan Kurawa pada kisah Mahabharata yang
berakhir dengan perang bharatayuda. Durna
adalah seorang guru bagi kaum kesatria berdarah Bharata. Durna adalah
guru yang cakap, pandai, cerdik, sakti, dan mahir siasat perang. Selain itu ia
adalah guru memanah Arjuna dan menjadikan Arjuna menjadi pemanah ulung dan
unggul. Pada saat menjadi guru, ada seorang pemuda dari rakyat biasa mendatangi
Durna untuk berguru memanah, namun dengan congkaknya Durna menolak menerima
pemuda yang bernama Palgunadi atau Ekalaya sebagai muridnya. Palgunadi atau
Ekalaya pun menerima penolakan dengan pergi ke hutan, membuat patung Durna
untuk menemaninya belajar memanah. Karena ketekunan dan kepercayaan akan
kehadiran Guru Durna dalam bentuk patung, Palgunadi menjadi pemanah ulung
bahkan mengalahkan kepiawaian Arjuna. Arjuna dan Durna yang mendengar ketenaran
Palgunadi mendatanginya dan menuntut balas budi sebagai guru “bayangan” berupa
ibu jari Palgunadi. Tanpa ibu jari, seorang pemanah seperti seorang pesepak
bola tanpa kaki. Kisah tragis kesetiaan seorang murid kepada gurunya.
SIKAP Durna dalam pewayangan digambarkan
sebagai tokoh yang congkak, sombong, tinggi hati, bengis, dan banyak bicara.
Sikap seperti itu tidak kayak sebagai guru, apalagi sikap pilih kasih, emban cindhe emban
siladan ‘yang satu digendong memakai kain, yang lain digendong memakai
bilah bambu’. Hal ini bisa kita temukan di sekolah elit dan favorit. Bingkisan
gratifikasi kepada guru dan wali kelas pada saat penerimaan rapor dapat
menentukan ranking atau prestasi, termasuk terpilih menjadi wakil sekolah untuk
acara-acara yang “mengharumkan nama sekolah”.
APABILA ada guru yang membaca tulisan
ini merasa tertohok dan sakit hati, saya bersyukur, berarti hati nuraninya
belum mati. Sumpah/janji menjadi guru profesional masih menggema di dadanya.
Kalau ada yang kemudian menepi, menyepi, mengintrospeksi, dan merefleksikan
diri itu yang penulis harapkan. Namun apabila ada yang mengutuki semoga kutuk
itu kembali kepadanya.
SUMPAH/janji guru Indonesia adalah
komitmen yang diikrarkan oleh guru profesional untuk mengabdikan diri dalam
mendidik, mengajar, dan membimbing
peserta didik demi masa depan mereka, serta menjunjung tinggi martabat profesi
guru dan kepentingan bangsa. Sumpah/janji ini meliputi janji untuk melaksanakan
tugas sesuai dengan kompetensi, mengutamakan kepentingan peserta didik,
masyarakat, bangsa, dan negara serta profesionalisme tanpa dipengaruhi
kepentingan di luar pendidikan.
DALAM masyarakat Indonesia yang
multiagama dan multibudaya, guru berkarakter, nasionalis, terbuka,
mengedepankan dialog, dan mengembangkan pembelajaran sosio-emosional sangat
dibutuhkan. Mengembangkan kesadaran bahwa bekerja bukan sekadar mencari uang,
yang ujung-ujungnya duwit (uud), sebagai sarana aktualisasi diri, seharusnya
lebih mulia lagi bekerja dan menjadi guru adalah ibadah, berkarya bagi sasama,
seperti Tuhan masih tetap berkarya bagi kita dan semua ciptaannya. Menjadi guru
hendaklah sebagai panggilan jiwa, passion, yang akan memperkaya hati dan
jiwa.
MARI kita refleksikan peringatan Hari
Guru tahun ini dengan berkaca kepada Durna dan kita sebagai guru tidak mau
menjadi seperti Durna yang congkak, sombong, tinggi hati, bengis, pilih
kasih/tidak adil, dan banyak bicara. Selamat Hari Guru, para pahlawan tanpa
tanda jasa.
*) Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun

