[Pemerintahan][bleft]

Sekilas

[Sekilas][twocolumns]

Artikel Hari Kebangkitan Nasional

Peran Ibu Dalam Menghadapi #Indonesiaterserah

Oleh : Dra. Agnes Adhani, M.Hum
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Katolik Widya Mandala Madiun

AJAKAN bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah dengan #dirumahaja sekarang menjadi biasa saja karena telah berlangsung dua bulan, ya dua bulan, sejak 23 Maret 2020.
PADA awal pandemi ini ada dan nyata di Indonesia orang kalang kabut,  takut pada maut bergelayut bagai selimut yang menutup akal sehat. Teror horor ketakutan akan kiamat dengan ramalan dan hitungan bahwa dalam sebulan akan terjadi kematian 260 juta manusia. Hal itu tak terwujud. Hal ini tidak menyadarkan manusia dengan sujud syukur malahan berlanjut dengan tingkah yang abai, dengan ulah pasien menolak, berontak, bahkan pergi menyebarkan virus sehingga menjamur kluster  penyebaran. Lewat beraneka tindakan berusaha mudik dan merepotkan banyak pihak. Belum lagi tingkah konyol dengan balapan liar, tawuran barbar, uyel-uyelan di pasar, serta anak dan remaja berkeliaran pada malam dan dini hari seperti kelelawar.
SETIAP hari penderita bertambah lima ratusan, bukan harga dawet lho ya. Pada 19 Mei 2020 penderita bertambah 486 sehingga menjadi 18.406. Setiap pukul 15.30 pengumuman informasi progres penanganan pandemi hanya dianggap ramalan cuaca, diabaikan dengan orang tetap berlalu lalang tanpa masker, setiap saat disajikan usaha orang mudik dengan berbagai dalih, surat keterangan perjalanan  bisa diperjualbelikan.
ANGKA penderita sungguh bermakna, terutama bagi tenaga medis, penjaga garda terdepan. Pasukan sudah berkurang namun pasien semakin bertambah dengan tingkah pongah jumawa yang membuat jengah. Kisah giris dan miris tenaga medis tak digubris. Kisah para penyintas yang bisa melewati batas maut hanya dianggap fiksi, kisah halu, sungguh terlalu. Pemberitaan dan kebijakan berkelindan, apalagi terkait dengan bantuan dan PSBB yang tak keruan. Belum lagi tingkah youtuber dan artis dadakan yang ingin tenar dengan tingkah liar, cemar, tidak benar, dan membuat onar. Tidak salah kemudian mereka membuat #Indonesiaterserah.


IBU sebagai penguasa rumah seharusnya pinjam tongkat mak Lampir agar mampu menyihir anggota keluarga tetap bertahan di rumah dan taat dengan protokol kesehatan: cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, pakai masker bila keluar rumah, menjaga jarak dengan sesama, tidak menggerombol apalagi mengobrol dalam kerumunan, meminimalkan keluar rumah.
ANAK-ANAK mungkin jenuh sumpek, jengah, terkurung, terkungkung, apalagi di rumah petak yang tidak memungkinkan leluasa bergerak apalagi berjarak akhirnya berontak dan berdampak ikut-ikutan yang diberitakan oleh media. Berlaku norak. Kenyataan para ibu dengan membawa anaknya yang masih rentan memicu kerumunan  di pasar, uyel-uyelan di pusat perbelanjaan  demi baju anyar untuk lebaran sungguh memprihatinkan.
SIMPANG siur pemberitaan tentang izin salat Idulfitri dan kejatuhan ekonomi, serta kebangkrutan duniawi menghilangkan esensi ibadah sebagai bentuk bakti jemaah kepada Allah. Bukan tempat, baju baru, dan ritual yang utama, melainkan tertunduk kelu di tempat tersembunyi Tuhan pasti mendengarkan.
BETAPA sulitnya menanamkan kesadaran akan norma hidup bersama dengan tidak egois, dengan setiap keinginan harus dipenuhi dengan berbagai ulah dan tingkah, termasuk tantrum. Peduli dan patuh adalah kunci agar pandemi ini berakhir.
MARI para Ibu, kita persiapkan Idulfitri dengan hati bersih dan suci dengan semakin kelu di hadapan Gusti. Tidak dengan menu istimewa dan baju pesta, melainkan semakin menyadari bahwa hidup kita begitu riskan dan rentan, seperti telur di ujung tanduk, mingklik-mingklik nyaris hancur lebur terkubur.
MARI para ibu dan emak semakin galak mengatur bapak dan anak untuk tetap berada di rumah sebagai tempat paling aman, taat pada aturan  termasuk dengan PSBB, pembatasan sosial berskala besar. Patuh adalah sikap yang harus ditumbuhkembangkan dalam keluarga dengan model dan contoh oleh para orang tua. Termasuk para pemuka dan pejabat juga mampu menjadi model perilaku taat dan patuh. Para ibu hendaknya tidak takut bahwa PSBB berdampak pada pelebaran seluruh bagian badan, yang penting tetap sehat, penuh semangat menangkal segala bujuk jahat setan dalam berbagai wujud.
MARILAH kita panjatkan permohonan kepada Tuhan agar berkenan mencurahkan berkat kesehatan, keamanan, kedamaian, kesabaran, kerendahhatian, dan rezeki yang pantas bagi umat-Nya dalam menghadapi situasi tak menentu ini, khususnya dalam memilih, memilah, dan mengolah pemberitaan yang membuat hidup semakin lelah dan jengah. Semoga kita tak pesimis dan pasrah menyerah.
MARI kita bangkit seperti generasi 1908 yang mampu bangkit dan mengungkit bangsa Indonesia menuju merdeka. Selamat Hari Kebangkitan Nasional yang dipelopori dokter Sutomo dan kawan-kawan. Mari berjuang kawan-kawan tenaga medis dengan inspirasi perjuangan dokter Sutomo sebagai pejuang kemanusiaan demi Indonesia jaya. Salam sehat.
Madiun, 20 Mei 2020.