Oleh : Margaretta Ngorot Sapoula*)
SETIAP Sabtu sejak November 2025, sebuah sudut kecil di Kota Madiun, tepatnya di sebuah rumah kontrakan di Jalan Husein Palila, dipenuhi aroma pisang matang yang tenggelam dalam minyak panas. Asap tipis naik pelan, membawa wangi cokelat dan keju yang mulai meleleh. Dari sudut kontrakan, seorang mahasiswa perantau menjalankan usaha piscok lumer dengan tekad yang tak kalah panas dari wajan yang ia gunakan. Ia memulai usaha ini bukan karena ambisi besar, melainkan karena kebutuhan untuk bertahan hidup jauh dari keluarga.
PADA awalnya, ia kerap dilanda rasa takut. Ketika pertama kali membuka lapaknya, ia membayangkan dagangannya akan tersisa banyak. “Kalau nggak ada yang beli gimana, ya?” gumamnya sambil menyalakan kompor. Namun ketakutan itu perlahan hilang ketika beberapa orang mulai memesan setelah melihat story WhatsApp-nya. Setiap Sabtu, ia mengunggah foto piscok panas yang baru diangkat dari wajan, disertai tulisan sederhana seperti, “Piscok lumer siap antar masih hangat, masih lembut.” Tak hanya itu, ia membuat pamflet digital sederhana dan mengirimnya ke beberapa grup WA: grup angkatan, group prodi, grup pertemanan, dan grup lingkungan tempat ia tinggal.
PELANGGAN pertamanya mengirim pesan, “Mbak, saya coba satu bungkus dulu, ya. Kalau enak, nanti order lagi.” Dengan tangan sedikit gemetar, ia menjawab, “Baik, Mas. Saya gorengkan dulu, ya.” Hari itu, ia hanya menjual beberapa bungkus, tetapi senyum kecil yang muncul di wajahnya membuat segala rasa cemas perlahan menghilang. Kepercayaan diri mulai tumbuh, meski pelan.
SETIAP Sabtu pagi, ia menyiapkan pisang-pisang terbaik, kulit lumpia segar, parutan keju, dan potongan cokelat yang akan meleleh ketika digoreng. Ia menyulap meja kontrakan kecilnya menjadi lapak dagang, menata semuanya dengan rapi meski tempatnya sempit. Saat menggoreng, wajan panas menjadi teman setianya. “Harus sabar, harus rapi,” selalu begitu ia mengingatkan dirinya setiap kali mengaduk-aduk piscok dalam minyak panas.
KONTRAKAN kecil itu selalu ramai dengan suara notifikasi pesanan. “Mbak, bisa dianter ke rumah?” tanya salah satu pelanggan. Tanpa ragu ia menjawab, “Bisa, Bu. Tunggu sebentar ya, saya jalan kaki ke sana.” Ia membawa piscok dalam kantong plastik, berjalan melewati gang- gang kecil Madiun menuju rumah pembeli. Meski kadang jauh, ia tetap melakukannya dengan senang hati. Di perjalanan, ia sering berbicara pada dirinya sendiri, “Dikit lagi sampai. Yang penting pelanggan senang.”
TAK jarang, pelanggan menyapanya dengan ramah. Seorang ibu pernah berkata sambil tersenyum, “Wah, makasih ya, Mbak. Pisangnya masih hangat. Anak saya suka banget yang lumer-lumer begini.” Ucapan itu menjadi semacam hadiah yang tidak ia sangka akan begitu berarti. Hujan kecil pun pernah ia terobos demi mengantarkan dua bungkus piscok, menutupi plastik pesanan dengan jaket agar tetap kering.
LAMA-kelamaan, pelanggan mulai berdatangan bukan hanya dari story WA, tetapi juga dari rekomendasi mulut ke mulut. Ada yang mengatakan piscoknya “bikin mood naik banget,” ada yang bilang “lumerannya beda dari yang lain,” dan ada pula yang menulis pesan panjang, “Mbak, tolong jangan berhenti jualannya ya. Ini piscok terenak yang pernah saya beli.” Komentar-komentar itu menjadi penguat sekaligus pelecut setiap kali rasa lelah datang.
USAHA ini mengajarkannya banyak hal yang tidak ia dapatkan dari kampus. Ia belajar tentang kesabaran ketika pesanan datang bertubi-tubi, belajar mengatur uang agar tidak habis begitu saja, belajar jujur dalam setiap transaksi, dan belajar menghargai setiap rupiah yang ia terima. Dalam diamnya kamar kontrakan setelah lapak tutup, ia sering memandangi wajan yang mulai dingin sambil berpikir, “Ternyata, dari hal kecil seperti ini, aku bisa berdiri sendiri.”
KONTRAKAN kecil itu pun menjadi ruang tumbuhnya harapan. Ia bermimpi suatu hari bisa memperbesar usahanya, mungkin dengan gerobak kecil atau kios sederhana. Ia membayangkan anak sekolah mampir untuk membeli piscok panas sepulang kelas, atau pekerja kantor mampir untuk membeli camilan sore. Mimpi itu sederhana, namun selalu membuatnya tersenyum saat lelah.
KINI, setiap Sabtu terasa seperti bagian dari bab kehidupan yang ia tulis perlahan-lahan. Di antara asap gorengan yang menari, langkah kaki kecil mengantar pesanan, suara notifikasi pesan yang masuk, dan senyum pelanggan yang memesan lagi. Ia belajar bahwa hidup tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, hidup dimulai dari wajan kecil, dari story WA yang dibaca sepintas, dari pamflet yang dikirim ke grup-grup, dan dari keberanian seorang perantau muda yang ingin bertahan hidup.
PISCOK lumer itu bukan lagi sekadar jajanan. Ia adalah saksi perjalanan panjang, saksi kerja keras, saksi setiap ketakutan yang berhasil ia taklukkan. Di Kota Madiun, pada setiap Sabtu yang ia jalani, piscok itulah yang membantu menjaga mimpinya tetap menyala perlahan, tetapi pasti.
*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun.


