Berita Utama

[News][bleft]

Sari Berita

[Sekilas][twocolumns]

FENOMENA PESOHOR DAN PELAKOR BERLAKU KOTOR

Dra. Agnes Adhani, M.Hum
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unika Widya Mandala Madiun

    Hingar-bingar pemberitaan di media massa, khususnya media sosial akhir-akhir membuat giris. Pesohor yang bertingkah kotor melalui penyalahgunaan narkoba diberitakan secara terus-menerus. Para pesohor alias artis yang menjadi figur publik seharusnya berparas cantik, bertingkah apik, dan berperilaku terdidik dan etik, ternyata kotor, slebor, munafik, dan tak simpatik. Hal ini bisa menggerus iman masyarakat, khususnya kaum muda yang mudah ikut arus, apalagi pemberitaan lebih bernuansa bisnis dan bombastis, sehingga kurang etis. Pemberitaan penyalahgunaan narkoba oleh para pesohor diperheboh dengan pemberitaan tentang penyelundupan narkoba dengan berat lebih dari satu juta gram. Mengerikan. Memang demikiankah kehidupan zaman now? Bisnis tidak etis, artis tak menggubris tatanan kehidupan yang harmonis?
    Selain pesohor, yang heboh akhir-akhir ini adalah perilaku para pelakor. Pelakor (perebut laki orang) mengunggah perilakunya ke akun media sosial sebagai bentuk aktualisasi diri yang keblinger. Berselingkuh dengan suami orang adalah perilaku aib, negatif, asusila, amoral, mengapa bisa di-expose sebagai sebuah kebanggaan. Apakah rasa malu, bersalah, takut, termasuk takut kepada Tuhan sudah tidak ada lagi?
    Perilaku hidup manusia seharusnya dibentengi oleh dua pagar, yaitu (1) takut kepada Allah sebagai wujud iman vertikal, mengaku sebagai umat beragama yang percaya kepada Tuhan dan berusaha menjalankan perintahnya sekaligus menjauhi larangannya. Menjadi pelakor berarti berzinah, dan ini merupakan larangan Tuhan yang tergolong dosa berat, (2) malu kepada sesama sebagai wujud iman horisontal. Menjaga harmoni kehidupan dilakukan dengan mencintai sesama dan berperilaku sesuai dengan norma susila dan sosial yang berlaku dalam komunitas dan masyarakat, sehingga apabila melanggar norma susila dan sosial merasa malu. Namun kelihatannya hal ini, takut kepada Allah dan malu kepada sesama, sudah luntur bahkan hancur dan menghablur.
    Bagaimana sikap kita menanggapi fenemona pesohor dan pelakor ini? Inilah tantangan hidup kita saat ini. Menanggapi pemberitaan harus dilakukan dengan bijaksana, memilih dan memilah informasi yang kita butuhkan atau mendapatkan sampah yang seharusnya secepatnya dibuang agar tidak mengendap dalam memori kita dan mempengaruhi pola pikir kita. Selain itu kita sebagai orang dewasa harus mempu menjadi role-model bagi anak-anak, siswa, mahasiswa, kaum muda dalam berpikir, bertindak, dan bertingkah laku yang mencerminkan budaya takut dan malu. Sebagai orang tua kita harus nyinyir, juweh,  untuk menumbuhkembangkan karakter positif kepada kaum muda dengan mengingatkan, menegur, meneguhkan, dan memberikan reinforcement positif agar mereka bertingkah laku positif, tidak mudah tergiur oleh sesuatu yang tampak gebyar dan memukau.
    Media masa, termasuk media sosial seharusnya memikirkan dampak negatif pemberitaannya, tidak hanya mengejar keuntungan bisnis semata melainkan memperjuangkan etis juga. Prinsip media: bad information is good news seharusnya tidak dijadikan ideologi, karena media harus memberikan tontonan sekaligus tuntunan, agar kehidupan semakin sejahtera dan bahagia. Semoga para pengelola media memikirkan peran gandanya bagi masyarakat tersebut dan mewujudnyatakannya dengan seimbang dan harmonis.
    Pendidik dan dunia pendidikan  ditantang memberikan keseimbangan, agar pesohor dan pelakor yang kotor tidak melekat dalam pikiran sebagai sesuatu yang wajar, melainkan mampu memberikan muatan positif sebagai bentuk tanggung jawab mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, terampil, jujur, santun, dan tangguh serta memiliki benteng iman yang kuat dalam menjaring dan menyaring informasi yang beredar di sekitarnya.
    Marilah kita semua berjuang, berjejaring, dan bersinergi menciptakan Indonesia dengan generasi mudanya yang positif, kreatif,  religius, santun, dan tangguh. Merdeka.


IKLAN