Berita Utama

[News][bleft]

Sari Berita

[Sekilas][twocolumns]

CINTA BUNDA SEPANJANG MARGA: REFLEKSI HARI IBU 2025

 

Agnes Adhani


SETIAP 22 Desember bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu sejak 1959 berdasarkan Dekrit Presiden. Penetapan tersebut dilakukan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, bertepatan dengan peringatan 25 tahun Kongres Perempuan Indonesia pada 22-25 Desember 1928, dua bulan setelah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.


97 tahun yang lalu, perempuan Indonesia melalui 30 organisasi perempuan memiliki pemikiran tentang peran perempuan yang sangat visioner. Peran perempuan sangat besar bagi perkembangan bangsa yang perlu diberdayakan dalam bidang keluarga, pendidikan, kesehatan, termasuk keprihatinan terhadap nasib perempuan di lingkar kekerasan, diskriminasi, dan pernihakan anak yang menempatkan perempuan sebagai korban.


PERINGATAN kongres perempuan pada 22 Desember 1928 sebetulnya lebih layak diperingati sebagai Hari Perempuan bukan Hari Ibu. Mereduksi peran perempuan menjadi Ibu, apalagi selama Orde Baru. Domestifikasi dilanggengkan dan peningkatan peran perempuan diagungkan dengan Panca Dharma Wanita:  (1) Wanita sebagai istri pendamping suami; (2) Wanita sebagai ibu pengelola rumah tangga; (3) Wanita sebagai penerus keturunan dan pendidikan anak; (4) Wanita sebagai pencari nafkah tambahan; dan (5) Wanita sebagai warga negara dan anggota masyarakat.  Ungkapan wanita, wani ditata ‘wanita berani ditata’, menunjukkan peran pasif perempuan. Akibatnya nasib perempuan tetap hanya sebagai warga kelas dua, berperan domestik dan harus nrima, pasrah terhadap nasibnya, bahkan harus njaga praja ‘menjaga nama baik suami dan keluarga’. Speak up atas nasibnya dalam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak mendapatkan wadah.


PERIBAHASA cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang jalan, tidak bisa dipenggal. Gambaran anak yang mencintai ibunya hanya sepenggal, sepanjang galah.  Hal ini tampak nyata dalam fenomena penelantaran ibu oleh para anaknya.  Seorang ibu mampu hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh, mendidik, dan mengantar anak sampai dewasa, tanpa kendhat doa selalu dilantunkan untuk keberhasilan dan kebahagiaan anak-anaknya. Ibu adalah pembohong yang suci. “Ibu tidak suka daging dan sudah kenyang”, merupakan ungkapan kebohongan ibu demi anaknya kenyang dan mendapatkan gizi yang pantas. Ibu lebih sering menjadi tempat sampah dan pemulung sisa-sisa makanan yang ada. Seorang ibu bisa mengasuh 10 anak, tetapi 10 anak belum tentu bisa merengkuh seorang ibu. 


IBU yang mengasihi anaknya (anak-anaknya) tanpa batas lebih tepat digambarkan dalam syair lagu “Kasih Ibu”. Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Saatnya kita merenungkan peringatan Hari Ibu bukan hanya sebatas mengucapkan “Selamat hari Ibu” seperti layaknya Mother Day’s di barat. Cinta ibu tidak sebatas sepanjang jalan, apalagi jalan kenangan, melainkan sepanjang masa. Sungguh layak ungkapan “perempuan tiang negara” dan “surga terletak di bawah telapan kaki ibu” tidak hanya digaungkan setahun sekali melainkan diresapi dan diwujudnyatakan sebagai apresiasi terhadap perempuan sebagai pereksa hidup dan kehidupan. SELAMAT HARI IBU. (*)


*) Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun



IKLAN

Recent-Post