[Pemerintahan][bleft]

Sekilas

[Sekilas][twocolumns]

PEREMPUAN: PEMILIK DAN PEREKSA KEHIDUPAN (RENUNGAN PERINGATAN HARI KARTINI SAAT PANDEMI)

Oleh : Dra. Agnes Adhani, M.Hum
Dosen Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia
Universitas Katolik Widya Mandala Madiun
SETIAP 21 April hati Mukona merasa bangga, bisa merdeka seperti saat ini atas jasa RA Kartini. Gadis belia dengan berkemben sabukwala membuka cakrawala pandang tentang bagaimana menjadi perempuan dengan membaca.
Menjadi perempuan memang kodrat yang tidak bisa dilandrat dan digugat. Menjadi perempuan harus legawa dan tak menolak menjadi seperti tanah yang dibajak, diinjak-injak, diberi kotoran ternak, untuk menjadi ladang semai kehidupan baru, tunas muda yang mampu menghasilkan buah berlimpah. Menjadi perempuan yang dimuliakan dengan sebutan Sri, Dewi, Siti adalah pemilik kehidupan, pemelihara kehidupan, penjaga kehidupan, pereksa kehidupan. Tanpa perempuan kehidupan menjadi hampa, tak bermakna, dan berakhir dengan sia-sia. Rela menjadi tumbal dan martir demi kesembuhan dan kelangsungan hidup sesamanya lebih banyak dilakukan oleh perempuan yang dianggap tak sederajat sebagai perawat, namun dengan berani serahkan diri demi mentari pagi esok hari.
MUKONA tidak bisa menunjukkan data secara akurat namun berita memaparkan dan menayangkan bahwa korban diri perawat yang dihujat, mayat tak terawat, bahkan ditolak sebagai pembawa bencana ada di beberapa tempat. Sungguh ironis dan membuat hari terasa diiris, bahkan  menjadi semakin miris dan giris karena cara orang memandang perempuan.
Belum lagi berita kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merebak, bukan ajakan para lelaki untuk semakin sabar dan mawas diri, melainkan perempuan yang dituntut agar tetap nurut dan patut, serta tetap berbedak dan merias diri. Perempuan hanya ditempatkan sebagai pemuas syahwat lelaki. Ini cara pandang dangkal, tak masuk akal, dan membuat mata melek, bahwa perempuan berperan di sekitar dapur, sumur, dan kasur tak bisa luntur. Tuntutan untuk bisa olah-olah, umbah-umbah, dan lumah-lumah sulit diubah. Tuntutan berperan rangkap dan berganda-ganda dilakukan perempuan. Apalagi saat ini harus memutar otak agar rumah tetap terawat, pekerjaan tak terkendala, anak tak berontak, tak didukung oleh suami, malah digugat karena penampilan  tak terawat. Menjadi pemilik dan pereksa kehidupan diterima perempuan dengan kepatuhan sebagai bakti diri. Dalam masa pandemi ini harusnya perempuan  mogok kerja, demonstrasi dengan senjata sapu dan  sulak, berontak karena semua beban ada di pundak para emak. Namun itu tidak dilakukan, karena hidup untuk dilakoni bukan dikutuki. Sungguh perempuan adalah pemilik dan pereksa kehidupan yang bermartabat, karena setiap perempuan punya kesempatan untuk memilih menjadi perempuan yang sehat, cantik, cerdas, tegas, canthas, ngayahi segala tugas dengan tetap menjaga harmoni, rendah hati, penuh senyum walau hati dan badan remuk redam dihantam berbagai gelombang hidup dan kehidupan dan tak menyerah kalah sehingga mati dan tak berarti. Selamat Hari Kartini. (*).