Berita Utama

[News][bleft]

Sari Berita

[Sekilas][twocolumns]

MENAKAR KORELASI GENERASI MICIN DAN BUCIN DALAM RANA PENDIDIKAN

 
Oleh : Agung Mahardika Jiwangga

MICIN atau Monosodium glutamat juga dikenal sebagai MSG adalah salah satu asam amino non esensial paling berlimpah yang berbentuk secara alami. Kebanyakan micin memiliki efek samping yang serius, seperti kerusakan otak, keringat berlebih, dan detak jantung lebih cepat. Jadi anggapan micin bisa membuat gagal fokus adalah hanya sebatas pikirannya lemot, lucunya mereka menganggap semua tingkah anak muda yang menyimpang dan tidak wajar itu kebanyakan micin. Kini yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan otak kanan (afektif, empati, dan rasa). Padahal, pengembangan karakter lebih berkaitan dengan mengoptimalkan fungsi otak kanan. Pembentukan karakter juga harus dilakukan secara sistimatis dan berkesinambunganyang melibatkan aspek “knowledge, feelling, and action”. Jadi, disini pendidikan karakter dalam sekolah itu sangat penting karena bisa membentuk kepribadian setiap anak muda dan untuk tidak terpengaruh pada sesuatu hal yang menyimpang dari pendidikan. Sedangkan pada zaman sekarang, sebutan bagi anak-anak ataupun orang yang lamban berpikir alias lola (loading lama), tidak cekatan, diajak mengobrol tidak menyambung, atau absurd pasti dibilang generasi micin. Umumnya generasi micin ini disematkan kepada remaja tanggung, ataupun anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah.

ASAL MUASAL sebutan genarasi micin ini tidak bisa dipastikan dari mana sumbernya, karena terkesan langsung viral dikalangan masyarakat. Akan tetapi, generasi micin sangat identik dengan tingkah laku remaja yang meresahkan masyarakat, dari segi perilaku, gaya berpakaian, model gaya rambut yang terkesan urakan biasanya langsung dinilai bahwa itu adalah generasi micin. Jika di sekolah biasanya generasi micin ini disematkan oleh para guru kepada siswa yang kurang aktif dalam belajar serta tidak memiliki kepribadian yang baik, misalnya anak yang sulit sekali menangkap materi yang disampaikan guru, sedangkan dari sisi perilaku yaitu siswa yang sering bolos, sering terlambat, rambut dicat, serta hal-hal yang menyimpang dari aturan sekolah.
SEBENARNYA jika ditelusuri lebih dalam lagi, perilaku siswa yang menyimpang tersebut bukan akibat kebanyakan micin, melainkan kurangnya perhatian dari orangtua dan juga ingin mencari perhatian guru serta lawan jenisnya di sekolah tersebut. Beralih ke definisi arti kata bucin yang sekilas kedengarannya mirip dengan micin, tapi tak serupa. Bucin adalah akronim dari “Butuh Cinta”. Arti lainnya dari kata bucin adalah “Budak Cinta”. Dalam KBBI, istilah bucin tidak ada artinya, karena merupakan bahasa prokem saja, untuk arti bucin sendiri berarti orang yang tergila gila akan cinta, orang tersebut mau melakukan apapun demi orang yang dia cinta, dan juga tidak jarang generasi bucin ini mengorbankan segala sesuatunya hanya untuk urusan perasaan. Dalam arti ini intinya seseorang yang bucin selalu mempunyai pasangan. Bicara mengenai bucin di Indonesia tentu ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positif dari bucin adalah dapat membuat kita semangat untuk mengikuti pelajaran, apalagi jika pasangannya satu sekolah bahkan sekelas, hal itu akan membuat dirinya menjadi untuk ke sekolah dan meminimalisir untuk membolos sekolah. Hal positif dari membucin terhadap pasangan adalah kita bisa memberikan motivasi, misalnya memberi dukungan dalam keadaan terpuruk, serta belajar menerima (misalnya menerima kelebihan dan kekurangan pasangan), dan belajar hal hal baru (misalnya juga berusaha mengenali dan mengerti dunia pasangan). Disisi lain, generasi bucin juga mempunyai sisi negatifnya. Hal negatif inilah yang membuat generasi bucin, lebih melekat kepada remaja atau anak muda zaman sekarang. Ada salah satu kasus bucin yang menyebabkan remaja kehilangan masa depannya, contohnya ada gadis atau remaja yang merelakan keperawanan diambil oleh remaja pria yang masih berstatus pacar, karena takut diputuskan. Dengan hal tersebut, membuat gadis tersebut hamil diluar nikah serta masih berstatus pelajar, oleh sebab itu ia harus menerima konsekuensinya yaitu dikeluarkan dari sekolah, sedangkan yang menghamili tidak dikeluarkan.

FAKTA INI menunjukan bahwa remaja pria sering mengambil keuntungan, karena tahu bahwa sang pacar takut diputusin karena terlalu bucin, maka mereka mengambil keperawanan dari pasangannya dengan cuma-cuma, lalu tidak mau bertanggung jawab, betapa hancurnya masa depan dari seoarang gadis tersebut. Ada pula kasus lain soal bucin atau perbucinan dikalangan remaja yaitu, diputusin atau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, pas lagi cinta-cintanya, dan istilah tersebut sering kita jumpai diberbagai platform media sosial. Akan tetapi rata-rata yang mendengungkan kalimat “Ditinggal Pas Lagi Sayang-Sayangnya” adalah para remaja yang masih duduk dibangku SMP ataupun SMA. Jika dibedah lebih dalam lagi, hal tersebut memang berdampak pada mental remaja tersebut, yang berakibat pada sulitnya berkonsenterasi dalam belajar di sekolah bahkan di rumah. Umumnya pada seusia mereka yang masih remaja dan terkesan labil, belum siap untuk menerima sesuatu hal yang membuat perasaan mereka kacau yang akan mengganggu kejiwaan mereka, apabila mereka terlalu bucin terhadap pasangan mereka yang tidak setia. Hal tersebut dapat menghambat pendidikan mereka, karena hilangnya semangat dalam belajar, Dalam hal ini, generasi micin dan generasi bucin sangat berkaitan dan sangat berdampak terhadap kondisi belajar seorang remaja yang masih duduk dibangku sekolah.

GENERASI MICIN sangat identik dengan remaja atau siswa yang menyimpang terhadap aturan dimasyarakat atau aturan di sekolah. Sedangkan generasi micin memiliki dua sisi yaitu sisi positif dan negatif dalam rana pendidikan, akan tetapi sisi negatif dari bucin sangat besar pengaruhnya terhadap mental seorang siswa, dan hilang semangat dalam belajar. Oleh sebab itu elemen penting seperti orang tua dan guru sangat dibutuhkan untuk meminimalisir dampak negatif dari kedua generasi tersebut dengan cara, memberikan pengarahan serta bimbingan, agar remaja atau siswa bisa lebih memfokuskan belajar, agar image atau sebutan generasi micin itu tidak benar, apabila mereka belajar sungguh-sungguh serta dapat membuktikan bisa menjadi orang sukses dimasa depan, maka cinta sejati akan datang dengan sendirinya dan mereka tidak akan dibudaki lagi oleh cinta. (*)
AGUNG MAHARDIKA JIWANGGA adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, yang bertempat tinggal di Dampit, Malang, Jawa Timur.

IKLAN